Artikel rekomendasi: 5 tanda keterlambatan perkembangan anak: Apa penyebabnya dan apa yang perlu dilakukan?
Apa penyebab anak suka melempar barang?
Perilaku anak yang suka melempar barang dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan berbeda pada setiap anak. Penyebabnya dapat meliputi perasaan yang menumpuk, respons keluarga, cara mengekspresikan emosi, ketertarikan untuk bereksperimen, lingkungan, dan pemahaman yang keliru tentang alasan di balik perilaku tersebut.
Menangani perilaku anak yang suka melempar barang mungkin memerlukan dukungan keluarga serta penelusuran penyebab yang berkontribusi terhadap perilaku tersebut. Pengelolaan emosi dan komunikasi merupakan bagian penting dalam proses ini.
Perilaku melempar barang seperti apa yang normal sesuai usia anak?
Pada usia sekitar 9–18 bulan, menjatuhkan dan melempar barang merupakan perilaku belajar yang normal. Anak sedang bereksperimen dengan sebab dan akibat, melatih otot tangan, dan menikmati respons orang dewasa. Memasuki usia 1–3 tahun, anak sering melempar barang saat marah atau kesal karena belum mampu mengungkapkan perasaan dengan baik. Perilaku rewel dan mengamuk seperti ini umum terjadi pada anak batita dan biasanya berkurang ketika kemampuan berkomunikasinya meningkat, sekitar usia 3–4 tahun, menurut informasi dari American Academy of Pediatrics dan NHS.
Konsultasikan dengan dokter anak jika anak masih sangat sering mengamuk dan melempar barang setelah usia 4–5 tahun, melempar barang ke orang lain atau menyakiti dirinya sendiri hingga terluka, atau juga mengalami keterlambatan perkembangan bicara.
Bagaimana cara mengatasi anak yang suka melempar barang?
1. Ciptakan lingkungan yang aman
Menciptakan lingkungan yang aman bagi anak merupakan faktor penting dalam membangun pengertian, kasih sayang, dan kepedulian dalam keluarga.
Sediakan ruang pribadi: Berikan anak ruang pribadi yang menjadi "ruang aman" untuk menghadapi kemarahannya. Tempat ini bisa berupa ruang keluarga atau sudut kecil di kamarnya, tempat ia dapat beristirahat tanpa melempar barang.
Jaga tingkat kebisingan: Suasana yang tenang biasanya membantu anak merasa aman dan tenteram. Hindari teriakan untuk memanggil atau kekerasan di rumah.
Tetapkan aturan dan batasan: Buat aturan yang jelas mengenai perilaku yang dapat diterima. Semua perasaan boleh diungkapkan, tetapi memukul atau melempar benda ke orang lain tidak boleh. Bantu anak belajar cara yang aman untuk menyampaikan perasaan.
Bermain bersama: Bermain bersama anak menumbuhkan ketertarikan dan perasaan positif, serta membantu meredakan kemarahannya.
Berbicara dan memberikan dukungan: Ajak anak berbicara tentang perasaan dan kemarahannya. Yakinkan bahwa Anda selalu mendampinginya dan siap mendukung saat ia menghadapi masalah.
Hal yang perlu diperhatikan: Jauhkan benda keras, mudah pecah, dan tajam dari jangkauan anak. Jika anak melempar barang ke orang lain atau hewan peliharaan, pegang tangannya dengan lembut, lalu katakan secara singkat, "Tidak boleh melempar ke orang karena bisa menyakitinya," kemudian simpan benda tersebut untuk sementara.
2. Dorong pembelajaran melalui pengalaman
Menciptakan lingkungan yang mendukung anak belajar mengenali dan mengelola emosinya penting untuk mengembangkan keterampilan hidup. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua:
Ciptakan lingkungan yang mendukung anak belajar mengenali emosinya:
- Luangkan waktu untuk berbicara: Ajak anak berbicara tentang emosi dan perasaannya. Tunjukkan perhatian dan pengertian.
- Gunakan kosakata tentang emosi: Bantu anak belajar membicarakan emosinya sendiri dan mengenal kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.
- Gunakan multimedia: Multimedia merupakan sarana yang baik untuk mengajarkan dan mempelajari emosi. Gunakan buku cerita anak, video, dan aplikasi yang sesuai untuk membantu mengembangkan kemampuan mengenali dan mengelola emosi.
Langkah-langkah dasar ini membantu membangun landasan penting bagi kebahagiaan dan pertumbuhan anak di masa depan. Belajar mengenali dan mengelola emosi merupakan keterampilan yang berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan serta penting bagi perkembangan kepribadian dan keberhasilan anak kelak.
Artikel rekomendasi: 7 cara merangsang anak berbicara: Apa yang perlu dilakukan jika anak jarang berbicara?
3. Ajarkan keterampilan mengelola emosi
Mendukung keterampilan anak dalam mengelola emosi penting untuk membantunya menghadapi perasaan secara tepat. Berikut cara yang dapat Anda lakukan untuk mengembangkan keterampilan tersebut:
Ajarkan berhenti sejenak: Bantu anak menghadapi emosinya dengan mengajarkannya berhenti, menarik napas dalam, dan menunggu sejenak sebelum langsung bereaksi terhadap situasi atau perasaan yang muncul. Cara ini memberi anak waktu untuk berpikir dan tidak bereaksi ketika emosi sedang memuncak.
Gunakan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan: Ajarkan anak menyampaikan perasaan dan emosinya dengan jelas melalui kata-kata. Hal ini membantunya mengekspresikan diri dan meminta perhatian ketika membutuhkan dukungan.
Dorong pembelajaran dari pengalaman: Dukung anak belajar dari pengalaman yang dialaminya dengan mengajaknya bercerita tentang pengalaman tersebut dan hal yang dipelajarinya. Cara ini membantu mengembangkan keterampilan mengelola emosi.
Berikan kesempatan memilih: Beri anak kesempatan untuk memilih dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Hal ini membantu menumbuhkan rasa kendali atas dirinya sendiri.
Mendukung keterampilan anak dalam mengelola emosi membangun landasan penting bagi kebahagiaan dan pertumbuhannya di masa depan. Hal ini juga membantu membangun ketangguhan yang dipelajari untuk menghadapi situasi yang membuatnya marah atau tidak puas.
4. Jadilah teladan
Anak belajar mengelola emosi dengan mengamati dan meniru orang tua. Jika orang dewasa berteriak, melempar barang, atau memukul saat marah, anak cenderung mengikutinya. Ketika Anda marah, cobalah mengatakan di hadapan anak, "Ibu sedang marah, Ibu tarik napas dalam dulu, ya," lalu tunjukkan cara menenangkan diri. Hindari memukul atau memberikan hukuman keras karena hal itu justru mengajarkan anak menggunakan kekerasan. Selain memberi teladan, berbicara terbuka tentang perasaan juga penting. Berikut caranya:
Ciptakan lingkungan yang terbuka: Yakinkan anak bahwa rumah adalah tempat ia dapat membicarakan perasaan dan emosinya secara terbuka, apa pun persoalannya. Jadilah orang yang siap mendengarkan cerita dan perasaannya.
Dengarkan dan pahami anak: Tunjukkan bahwa Anda tulus dan ingin memahami perasaan serta emosinya. Dengarkan dengan penuh perhatian tanpa harus langsung menyelesaikan masalah atau memberikan saran.
Jangan menghakimi atau memberikan respons negatif: Hindari menghakimi atau merespons secara negatif ketika anak membicarakan perasaan atau emosinya. Sebaliknya, berikan dukungan dan bantu ia menemukan cara yang membangun untuk menghadapi emosi.
Ajarkan penggunaan kata-kata untuk membicarakan emosi dengan jelas: Ajarkan anak mengungkapkan perasaan dan emosinya secara jelas melalui kata-kata. Hal ini membantunya menyampaikan dengan jelas apa yang ia rasakan kepada Anda.
Bangun keyakinan akan kasih sayang dan pengertian: Yakinkan anak bahwa kasih sayang Anda penting dan tidak bergantung pada perasaannya saat itu. Pengertian dan kasih sayang Anda tetap ada, melampaui perubahan emosi yang ia alami selama perkembangannya.
Yakinkan anak bahwa ia dapat membicarakan perasaan dan emosinya secara terbuka dalam keluarga: Bangun rasa percaya diri anak bahwa ia bebas membicarakan perasaan dan emosinya di dalam keluarga. Hal ini membantunya belajar mengelola emosi sekaligus belajar selama proses tersebut.
Mendukung anak membicarakan perasaan dan emosinya membangun landasan penting bagi pengertian dan hubungan yang kuat dalam keluarga.
5. Bantu anak menenangkan diri
Memberi anak kesempatan menenangkan diri saat marah atau merasa tidak puas penting untuk membantunya mengelola emosi dan perilaku. Berikut cara yang dapat Anda lakukan:
Berikan mainan yang membantu menenangkan diri: Jika anak suka melempar barang untuk menenangkan diri setelah marah atau merasa tidak puas, Anda dapat memberinya mainan yang menenangkan, seperti boneka kain, bantal empuk, atau mainan anjing yang lembut. Ini memberi anak cara yang efektif untuk menenangkan diri.
Latih berhenti sejenak dan menarik napas dalam: Ajarkan anak berhenti sejenak dan menarik napas dalam untuk menghadapi kemarahan atau rasa tidak puas. Jelaskan bahwa menunggu sebentar sebelum bereaksi dapat membantu meredakan kemarahan dan membuatnya lebih mampu mengendalikan emosi.
Berikan waktu untuk beristirahat: Jika anak marah atau merasa tidak puas, berikan waktu untuk beristirahat dengan mengizinkannya pergi ke "ruang aman" dan menenangkan diri hingga emosinya mereda.
Dukung percakapan tentang perasaan: Dorong anak membicarakan perasaan dan emosinya dengan menceritakan hal yang membuatnya marah atau tidak puas. Cara ini membantunya mengenali cara mengelola emosinya sendiri.
Berbicaralah agar anak memahami: Ajak anak membahas pilihan cara mengelola emosi dan perilaku dalam situasi yang membuatnya marah atau tidak puas. Dorong ia memikirkan penyelesaian selain melempar barang.
Mendukung anak menenangkan diri saat marah atau merasa tidak puas merupakan cara yang baik untuk membantunya mengelola emosi dan perilaku. Baca lebih lanjut tentang mengajarkan anak mengendalikan emosi dan cara menghadapi anak yang mudah marah.
Beli mainan untuk si kecil6. Mintalah bantuan tenaga ahli
Mencari bantuan dari ahli perilaku anak, seperti psikiater anak atau psikolog anak, merupakan langkah penting ketika masalah menjadi rumit dan anak tidak menunjukkan perbaikan. Berikut alasan untuk mencari bantuan tenaga ahli:
Keahlian: Ahli perilaku anak memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam menangani masalah perilaku serta pengelolaan emosi anak. Mereka memahami perkembangan anak dan dapat memberikan konsultasi untuk membantu menyelesaikan masalah.
Perbaikan pengelolaan emosi dan perilaku: Tenaga ahli dapat membantu menganalisis masalah serta mengidentifikasi mekanisme atau teknik pengelolaan emosi dan perilaku yang sesuai untuk anak Anda.
Perencanaan dan penetapan tujuan: Tenaga ahli dapat membantu menetapkan tujuan dan menyusun rencana untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola emosi dan perilaku.
Membangun kerja sama: Tenaga ahli dapat menjalin hubungan dengan anak dan bekerja sama dengan Anda agar anak memperoleh dukungan serta bantuan menyeluruh untuk meningkatkan pengelolaan emosi dan perilakunya.
Konsultasi dan dukungan bagi keluarga: Tenaga ahli dapat memberikan konsultasi dan dukungan kepada keluarga Anda dalam menghadapi masalah dan memperbaiki situasi.
Mencari bantuan dari ahli perilaku anak merupakan langkah penting untuk membantu anak siap meningkatkan kemampuan mengelola emosi dan perilaku serta menemukan penyelesaian masalah yang efektif.
Kesimpulan
Menangani anak yang suka melempar barang saat marah penting untuk mengembangkan keterampilan mengelola emosi dan perilaku yang sesuai. Pengertian dan dukungan merupakan bagian penting dalam proses ini. Anda dapat menciptakan lingkungan yang aman, mengajarkan keterampilan mengelola emosi, mendukung percakapan tentang perasaan anak, memberikan teladan yang baik, menggunakan pengawasan dan pengendalian untuk membantu pembelajaran, serta mencari bantuan tenaga ahli bila diperlukan. Dengan langkah dan dukungan yang tepat, keluarga dapat membantu anak mempelajari cara mengelola emosi dan perilaku secara menyeluruh.
Sumber referensi: https://www.babycenter.com/toddler/behavior/throwing_1200989
https://kidshealth.org/en/parents/temper.html
https://www.whattoexpect.com/toddler/behavior/object-throwing.aspx
https://www.nhs.uk/baby/babys-development/behaviour/temper-tantrums/


